Belajar dari Anak-anak

Belajar dari Anak-anak

Ketika mulai beranjak remaja dan ingin sekali mencoba banyak hal, kita sering melakukan segala kegiatan yang mengurus otak ataupun tenaga. Karena itu, wajar saja jika banyak keinginan kita yang sudah terlalu lama dipendam saat masih kecil. Kala itu, belum boleh untuk mencoba hal-hal yang baru.

Saat tiba waktunya, ada rasa bangga dan senang saat bisa melakukan dan mencoba sesuatu yang begitu kita impikan sejak kecil. Barangkali, saat masih kecil dulu, kita ingin sekali bisa melakukan segala hal yang dulu kakak-kakak kita lakukan.

Contoh hal dalam kegiatan sekolah. Sewaktu SD, kita bisa mengikuti kegiatan di luar pelajaran akademis yang lebih sesuai dengan passion atau bakat dan talenta. Sementara itu, saat kita masih kecil, kegiatan yang belum dikuasai kadang kala belum boleh dicoba karena mungkin banyaknya kendala dan beragam alasan.

Dalam hal lain, kita ingin sekali aktif dalam sebuah kegiatan di luar sekolah, misal gereja. Saat kelas 5 SD, kita bisa ikut Bina Iman Anak (BIA) atau Bina Iman Remaja (BIR). Ikut dalam melayani Tuhan dan ingin bergabung menjadi Putra Altar atau Putri Sakristi.

Tak perlu pengakuan
Semua itu memiliki proses yang begitu panjang. Tahap demi tahap yang harus dilalui, semuanya berasal dari diri kita pada saat masih menjadi anak-anak yang begitu polos dan lugu. Kembali belajar dari anak-anak. Kita tahu bahwa seorang anak akan selalu percaya pada apa yang diucapkan oleh kedua orangtuanya atau orang yang menurut mereka yang akan menjaga dirinya.

Anak-anak hanya mengetahui bahwa orang yang berada di dekat mereka adalah orang yang akan menemani dan menjaga. Tidak akan menyakiti. Mereka akan selalu aman karena mengetahui bahwa orang yang ada di sampingnya adalah orang yang akan menghadirkan tawa dan bahagia.

Anak-anak tidak perlu pengakuan dalam segala keadaan. Mereka hanya perlu ketulusan hati dan keikhlasan. Tidak butuh segala macam hal yang menarik diri untuk terlihat lebih hebat dibandingkan orang lain. Bahkan, seorang anak akan selalu jujur tentang apa yang dirasakan tanpa mengetahui bahwa bisa saja ucapan tersebut akan melukai orang lain. Bagi mereka, kejujuran adalah kebahagiaan.

Mereka selalu ingin tampil beda karena selalu menyakini bahwa ada orang-orang dewasa yang akan selalu memberikan kenyamanan, kebahagiaan, dan kedamaian dalam hidup. Karena itu, mereka memiliki keinginan untuk bisa menjadi remaja yang selalu bisa tetap menjadi anak-anak waktu dulu.

Ingin rasanya menjadi anak-anak yang bersikap jujur, sopan, dan selalu mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantu. Berkat belajar dari anak-anak, kita menjadi tahu nilai kehidupan di dunia ini. Kehidupan akan lebih berwarna jika diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna, perasaan yang lebih baik, serta pikiran-pikiran positif. Senyum anak-anak, tawa anak-anak, serta kepolosan dan kejujuran mereka membangkitan energi bagi kita untuk menunjukkan siapa diri kita di hadapan Tuhan.

Tuhan akan tetap di samping kita. Anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia pun termasuk anak-anak Tuhan. Anak kecil yang akan selalu dicari Tuhan ketika kita merasa jauh darinya. Tuhan akan menjaga dan memberikan esempatan untuk bisa menjadikan diri kita layaknya anak-anak yang berlarian kepada-Nya.

Ditulis oleh Fransisca Adhelia
OMKĀ Paroki Karawaci Gereja Santo Agustinus (Tangerang, Banten)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *