Kesaksian OMK Jelang Ledakan di Gereja Santa Maria Tak Bercela: “Tuhan Bekerja dalam Diriku”

Kesaksian OMK Jelang Ledakan di Gereja Santa Maria Tak Bercela: “Tuhan Bekerja dalam Diriku”

Perkenalkan, namaku Desmonda Paramartha Puspitarena. Biasa dipanggil Desmonda atau Rena. Usiaku 20 tahun, September nanti. Keseharianku sebagai Mahasiswa di Universitas Widya Mandala Surabaya, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Bahasa Inggris.

Aku juga aktif di Orang Muda Katolik (OMK), Komisi Kepemudaan (KomKep) Keuskupan Surabaya, serta KMK UKWMS. Di sini, aku mau cerita tentang kejadian 13 Mei 2018 yang menimpa gerejaku, yaitu Paroki Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Ngagel, Surabaya.

Pada saat itu, aku dan teman-teman OMK Paroki SMTB sedang jaga parkir untuk tambahan dana sebagai acara kami pada Juni nanti, yaitu Jambore OMK Paroki. Sekitar pukul 06.50, aku tiba di gereja dan langsung ke parkiran motor yang bagian belakang. Tetapi, setelah aku melihat bahwa yang ada di parkiran depan hanya 1 anak, ya sudah. Aku segera menyusul untuk membantunya.

Kurang lebih pukul 07.10, aku menyaksikan ada sebuah motor dengan kecepatan tinggi nyelonong masuk ke halaman gereja. Motor tersebut ditumpangi 2 anak laki-laki berpakaian serba hitam dan memakai helm teropong. Mereka juga membawa kardus yang diletakan di bagian tengah. Padahal, di depan pagar gereja itu ada mobil yang sedang menurunkan umat untuk mengikuti misa mingguan. Aku tak memiliki firasat apapun bahwa ternyata yang dibawa oleh kedua laki-laki itu bom yang akan membombardir gerejaku.

Setelah mereka masuk dengan kecepatan tinggi, Mas Bayu sebagai tim keamanan segera menghadang motor tersebut. Tiba-tiba… terjadilah ledakan yang sangat keras suaranya. Kurang lebih 6–7 meter jaraknya antara aku dan lokasi kejadian tersebut. Setelah bom itu meledak, aku segera bergegas lari ke parkiran motor belakang untuk meminta pertolongan teman-teman.

Saat itu, aku hanya merasakan kesakitan di bagian paha saja. Tetapi, setelah dilarikan ke RS Bedah, ternyata ada 3 bagian badanku yang kemasukan serpihan logam-logam. Kurang lebih pukul 12.00, aku pun dibawa ke ruang operasi.

Ada 3 bagian luka yang paling parah, yaitu leher, paha, serta betis. Semuanya di bagian kanan. Masing-masing membutuhkan 4 sampai 5 jahitan. Sementara itu, kaki bagian kiri dan kening hanya luka-luka biasa saja. Bagian betis yang paling parah karena lukanya dalam hampir mengenai tulang. Bagian paha seperti ada lubang besar, tetapi tidak dalam. Sedangkan bagian leher, seperti tidak ada logam tetapi dokter mendeteksinya setelah pemeriksaan.

Sekitar pukul 15.00, aku sudah siuman dan melihat banyak saudara berdatangan Tak lama kemudian, Ibu Walikota Surabaya Bu Risma datang juga untuk menjenguk korban-korban bom. Pada saat menjengukku, beliau memberikan pesan kepadaku, “Ibu wes duwe data-datamu kabeh. Mengko nek wes waras melu kerjo karo aku ae (Ibu sudah punya data lengkapmu semua. Nanti kalau sudah sembuh, ikut kerja sama saya aja),” ujar beliau kepadaku setelah operasi itu. Pukul 16.00, aku pun dipindahkan ke kamar agar saudara atau teman tetap dapat menjengukku.

Tidak trauma
Banyak orang bertanya kepadaku, “Apa kamu enggak trauma sama kejadian itu?”

Lalu, aku menjawab dengan lantang, “Puji Tuhan tidak trauma.” Punya rasa dendam atau marah sama pelakunya? “Puji Tuhan, tidak ada rasa seperti itu ke mereka. Untuk apa marah ke mereka, toh juga mereka sudah pergi.” Bahkan, mereka juga tidak percaya kalau setelah kejadian itu, aku masih sempat lari. Mereka semua mengira bahwa aku langsung pingsan.

Tamu tak kunjung henti berdatangan untuk menjengukku. Bahkan, sewaktu aku sudah pulang dari RS, masih banyak teman yang datang. Mulai dari teman SD sampai kuliah, dosen-dosen, serta alumni Widya Mandala. Ada juga teman-teman Papa, Mama, Kakak, tetangga-tetangga rumah, pihak MenKes, hingga orang-orang yang tidak aku kenal pun juga menjenguk.

Oh, iya… Sabtu, 19 Mei 2018, aku dipanggil Romo Paroki untuk mengikuti misa bersama dengan umat. Bingung, kaget juga pada saat Romo Widya menghampiriku untuk meminta tolong padaku membagikan cerita peristiwa 13 Mei 2018 itu. Tak jauh berbeda yang aku share pada saat misa dengan cerita di atas. Kurang lebih ada 12 romo, suster, dan frater, serta ribuan umat yang mengikuti misa Sabtu sore itu.

Benar-benar bersyukur setelah kejadian itu. Mengapa? Karena, dari kejadian itu aku menyadari bahwa Tuhan benar-benar bekerja dalam diriku. Tak tahu lagi kalau Tuhan tidak bekerja dalam diriku. Entah bagaimana keadaanku pada saat itu. Kejadian itu adalah sebuah peristiwa iman yang sangat luar biasa.

“Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tak tahu apa yang mereka perbuat.” – Lukas 23:34

Ditulis oleh Desmonda Paramartha Puspitarena
OMK Paroki Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Ngagel, Surabaya
Foto: smtb.net



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *