Teater Kanisius Anak Walikota: Mengabdi pada Yang Abadi

Teater Kanisius Anak Walikota: Mengabdi pada Yang Abadi

Halo, kaduds! Minduds mau cerita tentang pertunjukan Teater Kanisius Anak Walikota yang diadakan pada Agustus 2017 lalu. Ini sifatnya reflektif, sih. Ceritanya agak panjang, jadi pelan-pelan saja ya bacanya.

 

Kisah dimulai dari perkenalan tentang Peter Kanis alias Petrus Kanisius. Petrus Kanisius merupakan seorang anak walikota yang juga bangsawan di Nijmegen, Belanda. Lahir pada tahun 1521. Kala itu, masa reformasi gereja masih berlangsung. Ada suatu gerakan melawan gereja yang dipelopori oleh Martin Luther dan didukung oleh salah satu pemberontak radikal yang juga teolog, yaitu Thomas Müntzer.

Kedua tokoh itulah yang membakar semangat pemberontakan kaum tani dan kaum miskin kota karena kondisi gereja yang sangat bobrok. Waktu itu, tidak ada transparansi dan dapat disebut sebagai zaman kegelapan dari gereja itu sendiri.

Dialog pertentangan mengenai kehidupan tani ditunjukkan tokoh Hans Muller, Joan Kardoso, dan Karl Anderson yang berprofesi sebagai petani gurem alias petani yang hanya punya lahan sepetak. Nah, 3 tokoh yang dimunculkan dalam teater ini ingin menjelaskan kondisi masyarakat kelas bawah zaman itu yang tertindas akibat kebijakan yang dijatuhkan oleh gereja dan tuan tanah bersama dengan pemerintahan.

Kekesalan para tani pun ditambah dengan para penyebar ajaran sesat yang radikal, yaitu tokoh John Jurken bersama dengan Rolland yang memprovokasi untuk menyerang gereja dan pemerintahan. Mengutip apa yang dikatakan John Jurken, secara politik kekuasaan bangsawan dan pemimpin gereja seharusnya dipergunakan untuk mengatur kehidupan masyarakat supaya adil, makmur, rukun, dan sejahtera. Namun, yang terjadi tidaklah demikian. Dengan kekuasaan yang dimiliki, pemimpin tersebut malah membuat aturan yang menguntungkan dirinya sendiri, lho kaduds. Itulah yang namanya penyalahgunaan kekuasaan, mengatasnamakan kekuasaan untuk kepentingannya sendiri. Uh. Kesal, kan?

Kehadiran iman
Iman adalah tanggapan manusia terhadap cinta Allah dengan mengerti, mendengarkan, dan menjawab suara Allah. Petrus Kanisius juga merasakan kehadiran iman dalam hidupnya, nih. Petrus hidup sebagai bangsawan dengan segala kelimpahannya dan mampu melanjutkan studi di Koln, Jerman.

Sebuah cinta yang besar dari Allah, bahwa tidak semua orang dapat menjadi seperti Petrus. Namun, Petrus tersadar dengan pengalaman hidupnya, melihat langsung argumentasi para petani tentang gereja dan pemerintahan. Petrus memandang apa yang ia dengarkan dan ia lihat adalah cara Allah untuk menyampaikan masa depannya, lho kaduds. Apa yang Allah inginkan dari Petrus disampaikan lewat pengalamannya langsung dengan rakyatnya.

Ya, Petrus bisa saja jadi pengacara hukum dan meneruskan tahta walikota ayahnya, tapi tidak. Ia memahami bahwa dengan menjadi walikota, ia tidak bisa mengubah gereja dan rakyat. Karena itu, ia membuat pilihan.

Santo Petrus Kanisius | Sumber: katakombe.org

Suatu pilihan yang tidak mudah karena ditolak mentah-mentah oleh ayahnya, Jacob Kanis yang sangat konservatif. Petrus pun kembali lagi digerakkan oleh konsep pembedaan roh, di mana ia harus memilih untuk membalas cinta Allah kepadanya, yaitu menjadi seorang pastor. Bahkan, perannya terhadap masyarakat dan gereja tidak pernah lepas dari tindakannya yang memilih menjadi pastor.

Petrus berperan dalam pendidikan kolese di berbagai belahan bumi Eropa dan penerbitan tulisannya, yaitu katekismus. Ia mengajar dan menyadarkan banyak umat untuk kembali pada gereja, yang sebelumnya dicap korup menjadi sangat manusiawi.

Nilai kemanusiaan
Secara sosial, masa kehidupan Petrus Kanisius tidak pernah lepas dari kehidupan gereja masa itu yang notabene masih buruk dan gelap, lho kaduds. Kalau merujuk pada buku yang ditulis Brenda Raplh Lewis (2010), ”Sejarah Gelap Para Paus-Kejahatan, Pembunuhan dan Korupsi di Vatikan”, Martin Luther adalah seorang imam, teolog, dan juga profesor. Tapi, ia bersikukuh bahwa pembelian indulgensi atau surat pengampunan dosa agar umat bisa terampuni dosanya adalah sebuah kesalahan besar.

Melalui Tesis 95, ia menulis mengenai konsep fundamental mengenai kekuasaan dan kemanjuran indulgensi yang faktanya digunakan untuk membangun kembali Basilika Santo Petrus di Roma. Di sisi lain, Petrus Kanisius dihadapkan pada situasi yang dilematis. Keluarganya merupakan bangsawan yang disokong juga oleh gereja. Hal ini tercantum dalam percakapan antara dua ajudan Jacob Kanis, yaitu tokoh Hendrik dan Ferdinan.

Hendrik mengatakan bahwa bukan hanya para demonstran tapi bangsawan dan gereja pun melakukan tindakan yang sama. Tokoh Hendrik ingin membuka pikiran bagaimana gereja merestui, para pangeran dan bangsawan yang mengangkat senjata dalam pertempuran petani. Maka dari itulah, Petrus Kanisius mengangkat nilai-nilai kemanusiaan seperti membantu para petani lewat anak-anaknya seperti yang ditunjukkan oleh tokoh Petrus Kecil dengan membagi-bagikan makanan.

Tidak lupa juga, Petrus Kecil yang membela teman sebayanya, Stefanus, dari perundungan (bullying) dan perkelahian. Perilaku sederhana inilah yang membentuk pribadi Petrus Kanisius untuk menjadi seorang pastor untuk mengangkat harkat dan martabat kaum tani dan kaum miskin, yang semenjak kecil sudah menjadi lingkungannya. Petrus pun mampu membawa nilai kesetaraan derajat dengan merendahkan dirinya yang bangsawan dan bergaul bersama dengan anak-anak petani dan menjadi seorang pastor yang mengayomi seluruh pihak.

Nilai Jesuit
Perjalanan Petrus juga tidak pernah lepas dari nilai-nilai gerejawi yang dijiwai oleh Jesuit, yaitu ompetence, consience, compassion, dan commitment. Petrus adalah pribadi yang cerdas hingga bisa memahami masalah dan dinamika rakyatnya walau ia masih kecil serta mampu studi tingkat lanjut hingga ke Jerman. Ia menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang competence, lho.

Hati nuraninya juga diuji lewat pilihan hidupnya di masa depan. Bahkan, ia rela menjadi seorang pastor. Petrus menyadari dirinya karena memiliki consience. Tidak hanya dalam pikiran dan hati, Petrus sadar bahwa ia harus bergerak dan membantu. Ia membantu temannya Stefanus yang mengalami perundungan (bullying) dan membagikan makanan berupa roti kepada rakyatnya yang miskin dan kelaparan. Ia berjiwa compassion.

Pada akhirnya, seluruh hal itu disatukan dengan commitment dirinya menjadi seorang pastor. Lagipula, 4 nilai di atas belum merangkum seluruh kebaikan dalam diri Petrus Kanisius, nih kaduds.

Masih ada nilai persevera dan magis. Sebagai anak bangsawan, Petrus adalah pribadi yang tangguh dan ulet. Walau ditolak oleh ayahnya menjadi seorang pastor, Petrus tetap bersikeras untuk menjadi pastor. Bukan tanpa dasar, melainkan perwujudan kebebasannya yang bertanggung jawab dan tanggapan terhadap Allah. Ia justru tidak ingin terjebak di zona nyaman dalam keluarga bangsawan. Ia malah ingin menjadi lebih baik. Bukan dalam hal material, melainkan rohani dan demi perubahan gereja yang lebih baik.

Semangat yang dapat diteladani dari seorang Petrus Kanisius adalah berpegang pada prinsip, mengabdi pada Yang Abadi. Ya, mengabdi pada Yang Abadi. Inilah yang minduds rasakan setelah memahami teks dan konteks dari kehidupan Petrus Kanisius.

Minduds memahami bahwa Petrus adalah orang yang berprinsip dan tidak pernah lepas dari yang ia pikirkan. Petrus ingin menjadi pastor dan tetap berpegang pada prinsipnya, bahkan membantah perkataan ayahnya.

Petrus tidak ingin terbuai dengan kemewahan duniawi. Ia ingin mengabdi pada Allah sebagai tanggapan cintanya pada Allah. Hal itulah yang menjadi semangat perjuangan kehidupan minduds kelak. Kita harus memiliki prinsip dalam hidup dan menyatukan seluruh kehidupan hanya pada Yang Satu dan Yang Abadi, yaitu Allah sendiri.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *