What the Colour of Our Faith?

What the Colour of Our Faith?

JoyFest 2018 menawarkan banyak seminar. Tapi, minduds memilih ikut seminar yang satu ini. Dari judul seminarnya, menarik, nih: What the Colour of Our Faith?” Memangnya, seminar ini kira-kira ngomongin apa ya?

Komunitas GROPESH (Gerakan Orang Muda Peduli Sampah dan Lingkungan Hidup) adalah kelompok yang berperan di balik terlaksananya seminar ini. Sebagai pembicara, turut hadir penyanyi Nugie dan Ibu Ruli (salah satu orang yang sudah lama melakukan pelayanan di dalam GROPESH).

Laudato Si
“Selain misa, ekaristi, apalagi yang harus diisi ke gelas kita?” tanya Nugie.

“Jika bicara iman, rajin ke gereja? Rajin doa? Ada yang rajin doa, tapi jarang ke gereja. Ada yang berbuat baik, tapi enggak ke gereja. Warna iman kita seperti apa?” tanya bu Ruli.

Nah, apa, sih yang harus diisi ke gelas kita, kaduds? Apa juga warna iman kita?

Bu Ruli menjelaskan, banyak orang Katolik yang belum mengetahui Laudato Si, padahal inilah ensilik kedua dari Paus Fransiskus. Laudato Si berisi tentang perawatan rumah kita bersama. (Kaduds bisa membaca Ensiklik Laudato Si yang diterjemahkan oleh P. Martin Harun OFM bisa cek di sini.)

 

LAUDATO SI‘, mi’ Signore”, —“Terpujilah Engkau, Tuhanku”. Dalam nyanyian yang indah ini, Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama bagaikan saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan seperti ibu yang jelita yang menyambut kita dengan tangan terbuka. “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang menopang dan mengasuh kami, dan menumbuhkan berbagai buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rerumputan” (Nyanyian Saudara Matahari atau Gita Sang Surya, dalam Karya-karya Fransiskus dari Assisi, Yogyakarta: Kanisius, 2000, 324-326).

 

Kaduds, salib itu ada yang vertikal dan horisontal. Horisontal, ke kanan dan kiri, mencintai sesama dan musuh. Vertikal, ada yang ke atas, yaitu mencintai Tuhan dan ada yang ke bawah yaitu mencintai bumi. Apakah kaduds sudah mencintai bumi? Kalau sudah, bagaimana dengan musuh? Apakah sudah mengasihi juga? :p

Oh, iya. Masih menurut bu Ruli, Jakarta adalah urutan kedua dari kota yang akan mengalami kekeringan. Plus, masih banyak orang Jakarta yang berperilaku NIMBY. Itu bukan bahasa anak JakSel ya kaduds. NIMBY itu singkatan dari Not In My Back Yard. Yang penting, rumahnya bersih dari sampah, enggak peduli, deh sampah itu lari ke mana. Masih banyak banget yang enggak melakukan pilah-pilih sampah, padahal sudah disediakan tempat sampah terpilah. Lalu, bagaimana dengan orang yang mengolah sampah sendiri? Minduds masih jarang menemukan orang-orang seperti itu, nih. Kalau kaduds ada cerita tentang orang yang mulai memilah dan mengelola sampah, boleh dong kasih tahu.

Acara ini mengingatkan minduds dan teman-teman peserta seminar untuk mulai pilah dan olah sampah biar enggak cuma backyard kita aja yang bersih, tapi semua lingkungan juga jadi bersih.

Resep awet muda
Kaduds tau enggak? Kak Nugie pantang bawa mobil sendiri, lho. Dulu, K ak Nugie sempet sakit 3 hari. Dokternya juga bingung sakit apa, padahal badannya oke. Akhirnya, dia jual mobilnya pada 2009 karena nyetir mobil di Jakarta bikin stres. Dari rumahnya di Bintaro ke Senayan aja menghabiskan waktu 2 jam. Lama banget kan?

Sekarang kalau ke mana-mana, kak Nugie lebih memilih naik sepeda. Enggak pernah nyetir sendiri. Bahkan, make up artist-nya sering bilang, “Mukanya mudaan. Rahasianya apa?” Sering-seringlah naik sepeda. Hahaha…

Menurut Kak Nugie, dampak alami dari bumi ini akan beda banget efeknya untuk kita. Alam langsung membayar kita atas apa yang kita lakukan. Maksudnya, ketika kita bersepeda, khususnya pagi hari, ya kita langsung terpapar sinar matahari. Panas, sudah pasti. Tapi, itu obat yang alami, lho. Kalau kaduds masih ingat pelajaran sekolah dulu, sinar matahari juga mengandung vitamin D yang baik untuk pertumbuhan tulang. Jadi, manfaatnya bisa langsung kita terima tanpa harus bersentuhan dengan zat-zat kimia.

Tim GROPESH foto bersama Kak Nugie. DOK Arsip Agatha Agnes

Apa yang bisa dilakukan?

Bu Rulis berpesan, Bumi ini bukan warisan untuk kita, tetapi titipan untuk generasi mendatang. Sudah seharusnya dirawat dengan baik. Mungkin, kaduds akan bilang “Min, kita yang cuma remah-remahan bisa apa, sih untuk merawat bumi yang gede banget ini?” Tenang, kaduds. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Coba baca bagian ini ya.

  1. Kaduds bisa buat kompos dengan cara meletakkan sampah atau sisa makanan ditaruh di tong kompos. Sampah akan berubah menjadi pupuk yang berguna untuk lingkungan. “Min, bagaimana kalau komposnya malah mendatangkan tikus?” Tenang. Katanya Kak Nugie, alam sudah punya jawaban untuk semua masalah yang ada. Untuk membuat tikus jauh dari rumah kita, taruh saja buah maja sebagai senjata alami. Pohonnya banyak di jalan raya. Tinggal ambil. Tapi, jangan sampai kita kena getahnya.
  2. Kaduds bisa BBM (bawa botol minum) dan tempat makan sendiri. Coba bayangin, berapa botol minum kemasan yang kita hemat kalau setiap hari kita bawa botol minum sendiri?? Banyak kan…
  3. Sering-seringlah naik transportasi publik
  4. Bawa sedotan sendiri! “Yaelah, min! Kita pake sedotan cuma satu kali dan kecil, kok. Enggak ngaruh buat bumi.” Memang, sih. Tapi, itu kalau hanya satu sedotan yang kamu pakai. Bagaimana kalau ada sejuta OMK yang berkomentar seperti itu, ada berapa banyak sedotan yang berenang-renang di laut?

 

Nah, kaduds… iman kita bukan hanya diwujudkan dengan datang ekaristi dan berdoa. Mari kita warnai hidup lebih indah dengan mencintai bumi. Dimulai dari hal-hal kecil, tapi terus berkelanjutan. Bergerak untuk alam. 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *